CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Sabtu, 28 Februari 2009

Otomasi Perpustakaan


Otomasi perpustakaan adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang diterapkan pada perpustakaan, dengan tujuan untuk memudahkan perkerjaan pustakawan. Berikut ini adaalah daftar alamat software otomasi yang di gunakan oleh sebagian perpustakaan untuk mumudahkan user dalam menelusur koleksi, diantaranya


Nama Software : Athenaeum Light 6.0 versi Indonesia
Alamat Download : Link
Pengembang : Didik Witono

Nama Software : Xigloo/Igloo
Alamat Download : Link
Pengembang : Hendro Wicaksono

Nama Software : Greenstone
Alamat Download : Link
Pengembang : -

Nama Software : Otomigen X
Alamat Download : Link
Pengembang : ITB

Untuk lebih jelasnya mengenai software otomasi perpustakaan dapat anda download di alamat berikut :


http://www.lib.itb.ac.id/~mahmudin/forum/daftar-software-2008.pdf

http://adab.uin-suka.ac.id/file_kuliah/DaftarLibraryOpenSource.pdf

ICT Merupakan Investasi Jangka Panjang

Pada saat ini ICT masih dinikmati oleh siswa di daerah urban, dan lebih bersifat komersial. Bahkan keberadaan ICT belum dimanfaatkan anak untuk memaksimalkan belajar mereka. Karena itu, pustakawan sekolah perlu mengambil alih pemanfaatan ICT untuk pembelajaran siswa. Pustakawan hanya dapat melakukan fungsi ini, bila tersedia cukup dana.

Indonesia sebagai negara sedang berkembang sudah waktunya memikirkan bagaimana membelanjakan uang untuk meningkatkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat secara umum, dan bukan hanya memberikan bantuan-bantuan yang bersifat sementara. Perpustakaan sudah waktunya membangun konsorsium untuk pendanaan dan juga untuk pelatihan staf dalam mengatasi perubahan yang ada dalam lingkungan belajar (Tam & Robertson, 2002).

Bila ICT tidak ditangani oleh pemerintah dan memungkinkan semua warga sekolah dan masyarakat dapat menikmatinya, maka pengadaan ICT yang sebagiansebagian itu hanya akan menciptakan jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin. Baik jurang pemisah antara Indonesia dengan negara maju, maupun kelompok yang lebih beruntung di Indonesia dan kelompok yang kurang beruntung.

ICT bagi Pembelajaran Elektronik

ICT semakin tidak dapat dikesampingkan dalam proses pembelajaran yang menyiapkan siswa untuk hidup di jaman ICT itu sendiri. Perpustakaan sekolah yang memungkinkan siswa belajar dengan menggunakan ICT adalah perpustakaan elearning. Pustakawan yang mengelola perpustakaan e-learning tentu tidak sekedar memindahkan teks dari bahan cetakan menjadi teks di dunia maya. Namun, seperti pendidik yang lain, pustakawan sekolah perlu menciptakan lingkungan belajar maya, interaksi online dan lingkungan belajar yang terkelola secara efisien. Dalam hal ini siswa belajar secara elektronik atau e-learning yang memungkinkan fleksibitas dalam pembelajaran dan yang memungkinkan umpan balik dapat diperoleh dengan segera. E-learning sudah banyak digunakan untuk pelatihan dan belajar jarak jauh dan kurikulum berbasis Web. Memang ada orang yang tidak menyukai pembelajaran semacam ini, karena mengurangi inteaksi kemanusiaan, dan ketidakabadian komputer.

Perpustakaan Menjadi Semakin Penting dalam Proses Pembelajaran Masa Kini

Pada masa lalu pembelajaran lebih bersifat menghafalkan bahan-bahan yang sudah ditentukan sebelumnya. Pembelajaran tidak terlalu mengedepankan rasa ingin tahu, inisiatif dan kemampuan kritis siswa. Siswa juga mendapatkan ijazahnya dari ruang kelas fisik dengan terlebih dahulu bertatap muka secara teratur dengan guru. Dalam konteks belajar seperti ini perpustakaan selalu diakui penting, tetapi tidak wajib. Pembelajaran semacam ini semakin ditinggalkan pada era informasi yang
ilmu dan teknologi telah berkembang dengan sangat cepat.

Belajar di jaman sekarang adalah untuk membangun makna, menyelesaikan masalah dan membuat keputusan. Belajar itu sedapat mungkin untuk menyelesaikan persoalan-persoalan hidup yang sebenarnya, kegiatan untuk berpikir, berkomunikasi dan belajar yang dibangun di atas pengetahuan dan pengalaman siswa sebelumnya. Dalam konteks yang seperti ini, perpustakaan yang dibutuhkan adalah perpustakaan yang memungkinkan siswa mengakses informasi secara elektronik, dan pustakawan adalah tenaga kependidikan yang dapat menawarkan bimbingan dan bantuan belajar
yang dapat terus merangsang pengguna perpustakaan untuk terus mencari informasi yang bermanfaat (Wang & Hwang, 2004).

Pada dasarnya siswa perlu memiliki keberwacanaan informasi (information literacy) atau keterampilan informasi (information skill), yang meliputi:
(a) mengenal kebutuhan akan informasi,
(b) mengetahui bagaimana secara tepat mengidentifikasi dan mendefinisikan informasi yang dibutuhkannya,
(c) mengetahui di mana mendapatkan informasi secara efisien,
(d) menyatukan informasi yang diperoleh ke dalam kesatuan pengetahuan yang dimiliki, dan
(e) menggunakan informasi secara efektif untuk mencapai tujuan tertentu.

Selain keterampilan dasar di atas, keberwacanaan informasi di Amerika juga menghendaki siswa untuk mengetahui bagaimana menggunakan informasi secara etis dan legal. Di Australia, siswa juga harus tahu bagaimana menggunakan informasi untuk belajar sepanjang hayatnya dan bagaimana untuk menjadi warga negara yang berguna. Di Inggris siswa juga diharapkan untuk dapat menggunakan informasi yang ada untuk menciptakan informasi baru.

Pada masa sekarang karateristik masyarakat semakin kompleks. Masalah yang ada di masyakarat juga semakin rumit. Untuk memahami karateristik masyarakat, kita semakin pula membutuhkan sarana yang semakin mutidisipliner. Belajar juga tidak lagi terbatas di bangku sekolah. Belajar sepanjang hayat semakin dihayati sebagai unsur yang penting dalam mengembangkan profesionalisme, kemungkinan untuk dapat terus mempertahankan pekerjaan, dan menjadi warga negara yang dapat
membantu meminimalisasi perbedaan antara yang kaya dan yang miskin. Belajar sepanjang hayat menyatukan pendidikan informal, formal dan non-formal

Pentingnya Perpustakaan On-Line Dan Perubahan Dimensi Pustakawan Sekolah Di Era ICT


Sudah saatnya bagi siswa di era informasi ini untuk menjadi e-citizen yang memiliki keterampilan informasi yang tinggi. Sejak usia muda siswa sudah perlu dibiasakan dengan e-library dan e-learning. Hal ini hanya dapat terjadi bila perpustakaan itu berubah dan diberdayakan. Dengan jejaring yang ada di Indonesia sekarang, perpustakaan on-line sebenarnya sudah dapat diupayakan. Seorang pustakawan sekolah yang on-line memiliki tanggung jawab baru; salah satunya adalah aksesibilitas, yang dapat memfasilitasi siswa untuk belajar dengan lebih bermakna dan belajar untuk menyelesaikan persoalan hidup yang sebenarnya. Bukan hanya siswa di daerah urban saja yang membutuhkan perpustakaan online. Sebenarnya, semakin terpencil mukim seorang siswa semakin dia membutuhkan perpustakaan on-line. Dengan demikian dapat terwujud keadilan sosial bagi setiap warga negara.

Di era informasi ini perpustakaan sekolah di Indonesia pada umumnya masih belum cukup memadai, tetapi kita telah dihadapkan kepada perlunya perpustakaan on-line. Perpustakaan sekolah perlu beralih dari perpustakaan tradisional menjadi perpustakaan modern yang lebih sering disebut dengan pusat sumber belajar atau Learning Resource Center, atau Electronic Resource Center. Bila dalam penyediaan perpustakaan sekolah tradisional, kita telah dihadapkan pada permasalahan bagaimana menyediakan dana untuk mendapatkan koleksi bermutu yang mencukupi, dan setiap saat supaya dapat dilakukan penyiangan dan perbaruan koleksi, dengan perpustakaan on-line kita tentu dituntut untuk menyediakan biaya yang lebih besar. Terlebih lagi, metode dan teknik baru terus bermunculan dengan kecepatan yang semakin tinggi. Dalam kondisi yang seperti ini, kita membutuhkan jaringan internet ICT, bandwidth yang bagus, jumlah komputer yang cepat dalam jumlah yang mencukupi, dana yang cukup untuk dapat mengakses data base, dan juga SDM yang mencukupi untuk pemeliharaan peralatan yang canggih tersebut. Tentunya kita juga perlu melatih kembali para pustakawan sekolah, dan membangun sistem pendidikan yang memberdayakan perpustakaan, dan mengintegrasikannya ke dalam kurikulum pendidikan. Di tempat-tempat terpencil yang mengalami kesulitan sambungan listrik, perlu juga disediakan sistem tenaga sinar matahari dan generator. Bus dapat juga disediakan untuk pelayanan perpustakaan dengan ICT, seperti yang dilakukan di Sarawak, Malaysia (Bolhassan
& Razali, 2007). Hanya dengan demikian, kita dapat mempersatukan semua anak sekolah di antara 230 juta penduduk Indonesia yang menyebar dari Sabang hingga Merauke dalam jejaring internet.
Memang pemanfaatan ICT perlu dimasyarakatkan bilamana perbedaan antara yang kaya dan miskin ingin semakin diciutkan. Akses kepada internet tidak dapat dihindari bila pemerataan mutu pendidikan ingin diupayakan. Sebenarnya semakin terpencil suatu wilayah, semakin wilayah tersebut membutuhkan internet. Pada saat ini jaringan ICT untuk pendidikan di Indonesia telah memiliki pilihan keterhubungan dengan:
(a) Internet Dikmenjur & BKLN dengan nama Jejaring Diknas, yang terhubungkan dengan Internet Indonesia dan Internet Internasional, tetapi memiliki bandwidth yang relatif terbatas
(b) Internet Dikti dengan nama INHERENT, yang memiliki bandwidth cukup lebar tetapi hanya memiliki cakupan koneksi antar perguruan tinggi di Indonesia saja
(c) Internet Indonesia (IIX)
(d) Internet Internasional

Jadi, sekalipun Indonesia memiliki tantangan yang besar dalam pengadaan online library, modal awal berupa fasilitas jaringan internet sudah termiliki, sehingga sebenarnya kita sudah dapat mulai memasyarakatkan on-line library bagi pendidikan di seluruh tanah air. Halangan pertama yang kita hadapi adalah ketika kita mulai meragukan pengadaan dananya. Seharusnya keterbatasan dana tidak dianggap sebagai beban, tetapi digunakan sebagai sebuah awal ketahanan dan kekreatifan dalam pengadaan akses dan kesempatan bagi setiap warga negara untuk diberdayakan oleh teknologi tersebut. Halangan untuk memperoleh akses dalam penggunaan teknologi ini sebenarnya masih dapat diatasi bilamana pemerintah lokal, pusat, Lembaga Swadaya Masyarakat dan pengusaha secara bersama-sama bekerja untuk mewujudkan harapan ini. Tanpa upaya semacam ini tidaklah mungkin elearning terjadi.

Selain itu, di era informasi yang terkoneksi ini, komputer yang tak terhubungkan dengan internet adalah komputer yang memiliki fungsi sangat terbatas. Internet dan konektivitas adalah sarana yang memungkinkan setiap warga negara menurut keadilan sosial memperoleh informasi dan pendidikan, termasuk pendidikan sepanjang hayat, untuk perolehan kehidupan yang lebih baik.

Kata kunci yang penting untuk pemberdayaan warga negara melalui jejaring ICT bagi perpustakaan adalah aksesibilitas, konektifitas, pendidikan, dan materi. Yang dimaksud dengan aksesibilitas itu adalah keterjangkauan untuk memiliki atau menggunakan komputer, dan mendapatkan konten yang relevan. Yang dimaksud dengan konektivitas adalah keterhubungan komputer dengan internet. Komputer adalah alat untuk memasuki dunia informasi dan sumber daya global. Dengan komputer yang terhubungkan dengan internet, pendidikan dapat semakin berfungsi dalam membangun tenaga kerja yang terampil untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, baik secara individual maupun sosial. Pendidikan berteknologi tinggi semakin dibutuhkan pada jaman yang keterampilan membaca, menulis dan berhitung saja ternyata tak cukup untuk menjadi warga negara yang produktif. Yang dimaksud dengan materi adalah bagaimana internet itu memberikan informasi dalam bahasa yang dikenal oleh pengguna, memperhatikan hukum dan budaya yang ada pada masyarakat pengguna, informasi yang relevan, sumber daya dan pelayanan yang tersedia. Yang dimaksud dengan kekuatan untuk mentransformasi adalah kemampuan dari teknologi untuk memberikan keuntungan secara sosial dan
ekonomis. Kemampuan untuk mentransformasi ini tidak dapat muncul begitu saja dari pemerintah, mitra industri, dan LSM secara terpisah-pisah, tetapi perlu ada kerjasama dari ketiganya untuk menciptakan kesempatan bagi masyarakat dalam mengubah kehidupannya (Davies, 2007).

Sebenarnya Indonesia boleh dikata masih agak lambat dalam merespon kebutuhan akan ICT. Afrika, misalnya, telah dipersatukan oleh ITOCA (Information Training and Outreach Centre for Africa) yang menyediakan perpustakaan online dengan biaya rendah (Lwoga et al., 2007). Selain itu, setiap negara juga telah membangun perpustakaan on-line dan sekaligus e-learning, seperti Afrika Selatan dengan Electronic Resource Centres-nya (Agyei, 2007). Terlebih lagi Singapura, sebagai salah satu negara yang terkaya di Asia, masyarakat Singapura tidak saja dibangun menjadi masyarakat yang selalu mencari informasi, tetapi mencari informasi dalam lingkungan masyarakat berbasis pengetahuan atau knowledge-based society. Hanya dengan demikian, mereka dapat mengidentifikasi, mengelola, dan menggunakan informasi secara bermakna, baik dari bahan cetak maupun dari bahan elektronik; bahkan mereka telah menyebut diri mereka sebagai e-citizens. Artinya, suatu masyarakat yang hidup, bekerja dan bermain secara on-line. Hampir tak mungkin seorang anak tidak belajar secara on-line, kelompok masyarakat yang senior pun dilatih kembali untuk menggunakan teknologi informasi (Munoo & Narayanan, 2005).

Jumat, 27 Februari 2009

Perpustakaan = Enggak Gaul???

Hari gini, ada apa sih di perpustakaan sekolah? Kayaknya enggak ada yang ”penting” di perpustakaan sekolah atau perpus. Tinggal klik Google, semua informasi langsung tersedia....

Perpus? Udah bukunya jadul, lay out-nya enggak menarik, dilarang ngobrol lagi. Kalau saja enggak ada tugas yang memaksa kita masuk perpus, males banget ya...

Kayaknya hampir pasti kalo sebagian besar putabuers bakalan menjawab dengan ”penolakan” yang sama saat ditanya komentarnya soal perpus. Lokasi yang mestinya bisa jadi tempat nongkrongnya putabuers di sekolah, dijauhi karena kondisinya yang nyaris ketinggalan zaman.

Perpus ibarat ”penyakit”. Sejak zaman dulu, perpus identik sebagai salah satu tempat di sekolah yang amat dihindari putabuers. Kalaupun ada yang demen masuk ke perpus, bisa dibilang orang-orangnya itu melulu. Enggak jarang pula, geng perpus itu disebut sebagai kelompok enggak gaul.

Inget kan sosok Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta? yang diperankan Nicholas Saputra? Cowok asosial yang enggak punya temen itu hobi menyendiri, demen membenamkan diri di antara buku-buku di perpus.

Jadi kesannya, perpus = enggak gaul.

Kalo dibandingin sama kantin, pastilah perpus kalah populer. Biarpun kantin pasti bikin kantong terkuras, tapi tetap aja banyak putabuers yang lebih milih nongkrong di kantin ketimbang perpus.

Sejarah Perpustakaan,,,

Perpustakaan berasal dari kata pustaka yang menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan WJ Purwadarminta artinya buku. Sementara perpustakaan artinya kumpulan buku, bacaan, dan lain sebagainya.

Dalam bahasa Inggris, library (perpustakaan) berasal dari bahasa Romawi, librarium, yang terdiri dari kata liber berarti buku dan armarium yang artinya lemari. Jika dilihat dari kata asalnya librarium, lemari yang di dalamnya terdapat buku-buku.

Menurut The Oxford English Dictionary, kata library atau perpustakaan mulai digunakan dalam bahasa Inggris pada 1374. Artinya, sebuah tempat di mana buku-buku diatur untuk dibaca, dipelajari, dan dipakai sebagai bahan rujukan.

Pengertian perpustakaan ini pada abad ke-19 berkembang menjadi suatu gedung, ruangan, atau sejumlah ruangan yang berisi koleksi buku yang dipelihara dengan baik dan dapat digunakan oleh masyarakat atau golongan masyarakat tertentu.

Pada tahun 1970, The American Library Association menggunakan istilah perpustakaan untuk suatu pengertian yang luas, termasuk pengertian pusat media, pusat belajar, pusat sumber pendidikan, pusat informasi, pusat dokumentasi, dan pusat rujukan.

Dalam pengertian terbaru disebutkan, perpustakaan adalah salah satu sarana pelestarian bahan pustaka dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan yang berfungsi mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional.